Kearifan Tradisional

Arisan sungai: Kearifan Orang Empangau dalam mengelola sumberdaya Ikan

Kegiatannya Cabut Undi atau arisan terhadap pengelolaan secara tradisional sungai/suak yang ad di sekitar Desa, dilakukan setelah pengurus rukun nelayan menentukan pemintakatan (zonasi) malalui kaidah hukum adat setempat. Menurut sistematika adat mereka pembagian zona pemanfaatan terbatas tiap tahunnya, berjumlah antara 200 - 281 nelayan. Rata-rata menurut catatan ketua rukun nelayan setempat masrakat melakukan cabut undi untuk 21 sungai dan 12 suak (sungai kecil) di awal tahun. “Pencabutan undi setahun sekali tgl 1-3 januari cabut undi,” kata Juniardi, kepala desa Nanga Empangau.

Satu nomor undian untuk sungai berkisar diharga 500 rupiah hingga 1000 rupiah, tergantung tingkat peminat. Sungai pati kolak misalnya tahun ini dihargakan 500 rupiah dengan peminat 9.262 nomor undian. Selain itu Sungai Kayu Tanggul yang seharga 1000 rupiah juga  sebanyak 4.767 nomor undiannya.

“Cabut undi bisa dari pagi  sampai tengah malam hanya untuk menentukan siapa yang berhak mengelola sungai atau suak,” tutur Juniardi. Caranya untuk memperebutkan satu sungai atau suak adalah nelayan mendaftarkan diri dengan membawa sebanyak-banyaknya nomor undian ke penanggung jawab yaitu RT masing-masing. “Jadi kalau saya punya 10.000 maka saya punya peluang 10 nomor undian unutk sungai dengan harga 1000 rupiah, “ jelas Ketua RT dusun empangau .

Juardi menambahkan, setelah nelayan menyetor ke ketua RT, kemudian melaporkannya pada Pengurus Rukun Nelayan. laludimulailah pencabutan undi. Nomor undian. “Kita pakai tempat seperti ember, Ember ini biasanya berisi 15.000 nomor. Bayangkan jika harga nomor

Sebenarnya unutk mengelola satu sungai 1 orang nelayan cukup mengeluarkan uang sewa setahun hanya 350.000 saja, namun melalui mekanisme arisan ini rata-rata 1 orang nelayan akan mengeluarkan 2-3 juta. “Ada yang masang 1,5 juta - 2 juta rupiah,” ungkap Juniardi. Mekanisme cabut undi ini sudah sejak lama dilakukan masyarakat desa dan merupakan cara-turun temurun yang sudah mereka cantumkan didalam buku adat yang kemudian buku adat se kecamatan Bunut Hilir dani diterjemahkan kedalam peraturan nelayan per desa. Kenapa harus ada arisan? “Kalau tidak ada mekanisme cabut undi ini, unutk mengelola satu sungai saja bisa-bisa akan terjadi perang/kelahi antar dusun,”kata Juniardi.

Maka dari itu mengacu apda sistem aturan adat dalam mengelola sungi ini pemanang undian dipersyaratkan berbagai hal seperti harus si nelayan pemenang sendiri yang mengerjakan; hasil undian tidak boleh dipindahtangankan dengan cara dijual lagi. Tapi kalau tidak mampu mengelola apakah di cabut? ”tentu tidak walau memang pada saat musim kemarau si nelayan kadang kewalahan dikarenakan saking banyaknya ikan di sungai tersebut. “Apalagi sekarang di musim kemarau. Kalau banyak ikan biasanya sampai puluhan ton. Caranya s nelayan akan bawa keluarga besarnya untuk mengerjakan dengan cara bagi hasil,” jelasnya.

Lalau bagaimana dengan yang tidak menang arisan. menurut juniardi tidak semua kawasan perairan (sungai dan danau serta suak) di desa Empangau yang dibatasi penangkapannya. “Kalau semua jadi zona lindung dan zona yang di arisankan, tentu sebagian besar masyarakat yang tidak mendapatkan hak kelola sungai tidak mendapat apa-apa. Maka dari itu masyarakat umum juga bisa memanfaatkan zona umum atau zona ekonomi. Khusus daerah sarai (hutan rawa) dengan tentunya ada biaya administrasi seperti unutk memanfaatkan zona ekonomi (bahasa lokal) persampan dipungut 10.000 rupiah per sekali turun (menangkap Ikan). Semantara untuk menjaga kepadatan ikan masa kemepilikan sungai melalui arisan setiap tahunnya di kahiri per tanggal 31 desember. jadi di akhir tahun semua alat tangkap yang dipasang di setiap sungai/suak dan empang harus diambil oleh nelayan itu sendiri,” katanya.

Kawasan Desa Nanga empangau merupakan ekosistem hutan rawa yang sangat tergantung dari sungai Kapuas. Dapat dijangkau dari ibukota kabupaten dengan speedboat 40 pk selama 2 jam. Menurut masyarakat keberlangsungan ekosistem danau itu sendiri dipengaruhi oleh suplay air dari hutan rawa sekitar, selain sumber air, sumber pakan alami untuk berbagai enis ikan dan tepat-temat tertentu di dalam kawasan hutan rawa sebagai tempat pemijahan dan perbesaran ikan tertentu seperti ikan tapah, kaloi dan belida.

Yang menarik di kawasan desa ini ada satu danau lindung yang dijadikan oleh warga setempat sebagai deposito stok ikan yaitu Danau Lindung Empangau. Tercatat danau lindung ini memiliki stok ikan rata-rata 5708/ha lebih tinggi dari lokasi danau sentarum di taman nasional danau sentarum yang sangat luas, sementara luas Danau lindung empangau sendiri Cuma kurang lebih 120 hektar saja..

Pontensi ikan danau empangau, terdiri dari: Ikan Arwana / Siluk, Ikan toman, Ikan Jelawat, Ikan Ringau, Ikan Tengadak, Ikan Baung dll, Sementara flora sebagai pakan ikan:putat,entanggis,tempurau,pubrik,raba,bungur dan tarap (anas)


Potret Meratus

Asnawi Panen Padi

Jarak ladang dari rumah Asnawi sekitar 2 jam perjalanan dengan jalan kaki.  Lahan yang dipakai disewa seharga Rp 1 juta dengan luas sekitar 10 Ha.    Usai magrib, kerumunan anak muda berkumpul di sekitar pondok dekat pintu gerbang masuk kampung.  Saat ini sudah ada 4 tandun yang panen padinya.  Juga terdengar khabar bahwa cucu Pembakal Ayal sedang sakit dan tengah menjalani ritual pengobatan adat.  Suasana hujan rintik terus berlangsung sejak siang hari.

Momentum Pagi

Warung kopi merupakan pusat kerumunan Warga di pagi hari.  Sambil menyeruput kopi dan mengunyah sepotong pisang goreng, obrolan terus mengalir dengan berbagai topic.  Salah satunya terkait dengan Pemilu yang sebentar lagi akan berlangsung. 

Ada juga obrolan tentang kacang tanah yang baru saja dipanen oleh salah seorang petani; anaknya pembakal.  Hasilnya 6 karung, dimana per karung beratnya mencapai 50 Kg.  Sebanyak 300 kg dijual ke Banjarmasin dengan harga Rp 6000/kg.

Malaris, 30 Agustus 2003

Pertemuan kampung di Malaris

Pengorganisasian petani belum terlaksana dengan baik.  Buktinya yang hadir saat ini hanya 5 orang tua laki-laki, 6 orang Perempuan serta anak muda 6 orang.  CO yang ada tidak berfungsi dengan baik.  Ada diskusi tentang tata letak lampu dibalai pertemuan yang belum tepat dan perlu dipindahkan.  Harus mencari people organizer dan harus dilakukan pelatihan. 

Disepakati yang menjadi team studi potensi :

Koordinator Lapangan : Asnawi

Anggota:

  1. Budi, bertugas untuk mengumpulkan data dari: Abah Budi, Abah Jani, Abah Yuli
  2. Susanto,  bertugas untuk mengumpulkan data dari: Dani, Muhlis, Abah Yuyun, Hariadi
  3. Amgil, bertugas untuk mengumpulkan data dari:
  4. Parjo, bertugas untuk mengumpulkan data dari: Pembakal, abah Parjo, Abah Arif, abah Madit
  5. Ijan, bertugas untuk mengumpulkan data dari: Jasman, Aslam, Huya
  6. Fitrani, bertugas untuk mengumpulkan data dari: Ibunya Fitri, Abah Pandi, Abah Hendra

Malaris, 30 Maret 2003

Pukul 23.00

Obrolan Pagi di Warkop Malaris dan di Pasar Muara Hani_Hani

Harga talas Rp 600/kg di pasar Muara Hani-Hani dan Rp 1500 di pasar Kamboja.  Harga cabe Rp 1750/liter, kacang tanah Rp 5700/kg. Jam operasional pasar dari  jam 10 pagi sampai 4 sore.  Buah Tiwadag dibawa dari Balai Manakili.  Pedagang pengumpul dari luar Malaris sekitar 2 orang dari malaris sendiri sekitar 10 orang.  Hasil kacang tanah petani  seharga Rp 1.444.450, @ Rp 5.700.  

Gaji petugas pendaftaran lapangan pemilu sebesar Rp 50.000 per bulan.  Harga Kemiri di Palangkara Rp 8000/kg untuk kemiri Kupas dan untuk gelondongan  Rp 2000/kg.  Di Muara Hani-Hani sebesar Rp 3000/kg untuk kupas.  Di malaris pernah dibentuk Koperasi Petani tetapi tidak ada kelanjutan sampai hari ini.

Malaris,  01 April 2003


Petani Kecil dari Kaki Gunung Welirang

Potret Petani Organik Dusun Trece

Pagi mulai beranjak terik ketika kami menelusuri pematang sawah di Dusun Trece-Desa Pacet-Kecamatan Pacet-Kabupaten Mojokerto-Jawa Timur.  Sebuah dusun di kaki gunung Welirang (3.156 m dpl)-gunung api yang telah lama tidak aktif. Justeru karena dibawah kaki gunung berapi inilah kemudian membuat tanah pertanian di kawasan ini terlihat begitu subur.  Hamparan sawah hijau menguning terlihat dimana-mana, dengan diselingi oleh hamparan tanaman bawang daun, tomat, dan seledri.

Di tengah petakan sawah yang  tanahnya mengering, terlihat Cak Put, tengah asyik bercengkrama dengan lahannya, dengan cangkul yang agak miring-ciri khas cangkul petani disekitar sini. Senyum khas-nya menghias ketika kami sapa. Sambil duduk di sisi pematang yang disampingnya mengalir sungai kecil yang bening, cerita tentang kesehariannya sebagai petani organik mulai bergulir.

Lahan 0,3 Ha ini dikelola dengan merotasi tanaman mulai dari padi IR 64, bawang putih, bawang daun, seledri, cabe dan tomat.  Lahan ini masih milik keluarga, namun Cak Put mendapat mandat untuk mengelola lahan ini sehingga lebih mudah untuk diarahkan ke organic.  Katanya ini masih tanah keluarga yang dikelolanya bersama ibunda tercinta yang dari kejauhan terlihat sedang asyik mengamati tanaman seledri tak begitu jauh dari tempat kami bercengkrama.

Rotasi tanaman dilakukan berdasarkan pengalaman kesehariannya tentang iklim dan serangan hama dan penyakit yang sering menganggu hasil dari tanaman-tanaman tersebut.  Pengetahuannya tentang ini pernah dituliskannya di sebuah buku dan beberapa artikel yang dikirimkannya ke berbagai majalah pertanian. 

Cak Put adalah salah seorang anggota kelompok tani “ Kelompok Tani Muda” (KTM).  Sebuah kelompok yang telah lama berdiri dan beraktivitas, namun sayangnya yang bertani organic saat ini hanyalah dirinya seorang.  Banyak anggota lainnya yang tidak tertarik lagi bertani organic. Pasalnya menurut Cak Put mereka lebih tertarik untuk mengumuli usaha jasa ekowisata yang memberikan penghasilan lebih baik dibanding bertani secara organic. 

Agak sulit mengali lebih jauh, kenapa Cak Put masih bertahan dengan dunia pertanian organic ini.  Mungkinkah karena dia masih memiliki kawan-kawan yang seringkali berkumpul dan berdiskusi tentang cita-cita dan nilai-nilai pertanian organic. Katanya, malu kalau tidak bertani organic!  Atau mungkin karena ada factor lainnya dimana bagi cak put sendiri, pendapatan dari bertani organic ini kelihatannya cukup memadai.  Misalnya, harga bawang putih yang dihasilkannya dibeli oleh pedagang yang langsung datang ke lahannya seharga Rp 22.000 per kg sementara rata-rata harga bawang putih saat itu hanya sekitar Rp 15.000 per kg.  Atau pada kasus lain, beras organic yang dihasilkannya dibeli dengan harga Rp 10.000 per kg sementara harga beras bukan organic hanya Rp 3.500 per kg.

Tak terasa, hampir sejam lebih kami menganggu aktivitas mencangkul dari Cak Put ini.  Dan sengatan mentari kian terasa, hampir berada diatas ubun-ubun.  Kami pamit sambil mencoba mengatur rencana-rencana pertemuan ke depan.   Cukup banyak yang tercatat, ada sekitar 3 – 5 kegiatan di bulan-bulan ke depan. Lalu, terlontar sebuah kalimat yang menyadarkan kami.  Kalau pertemuan terus-terusan, kapan saya bisa mencangkul ? Sebuah lontaran kalimat sederhana yang seharusnya menjadi bagian yang harus dicatat dalam analisis perencanaan dari sebuah gerakan pertanian organic.  Bila petani organik banyak terlibat pada aktivitas diluar lahannya, kapan kesempatan mereka untuk lebih akrab dengan lahan dan tanaman organiknya ?

 

Trece, 27 Juni 2011

Rasdi Wangsa


Mencermati Posisi Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional

“Negara melindungi segenap tumpah darah Indonesia, dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Draf rencana undang-undang Perlindungan Pemanfaatan Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional belum secara menyeluruh memperlihatkan semangat ini” demikian Prof Agus Sardjono dalam kesempatan diskusi terbuka di Forum Anggota Nasional JKTI di Bogor  sabtu 9 Agustus 2008. “ Secara menyeluruh,” Prof Agus yang sehari-hari mengajar di FH UI ini menambahkan bahwa , “ draft ini hanya mengakomodasi hal – hal pemanfaatan dan perlindungan tetapi belum mengakomodasi  aspek pengembangan dan pelestarian.”

Read More


Kearifan Tradisional dan Pembangunan Berkeadilan

Kearifan Tradisional merupakan tata nilai dalam tatanan kehidupan sosial - politik - budaya - ekonomi serta lingkungan yang hidup di tengah-tengah masyarakat lokal.  Ciri yang melekat dalam kearifan tradisional adalah sifatnya yang dinamis, berkelanjutan dan dapat diterima oleh komunitasnya.  Dalam komunitas masyarakat lokal, kearifan tradisional mewujud dalam bentuk seperangkat aturan, pengetahuan dan juga ketrampilan serta tata nilai dan etika yang mengatur tatanan sosial komunitas yang terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.

Read More


Gerakan Sosial Berbasis Kearifan Lokal

Kearifan Tradisional merupakan sebuah sistem dalam tatanan kehidupan sosial - politik - budaya - ekonomi serta lingkungan yang hidup di tengah-tengah masyarakat lokal. Ciri yang melekat dalam kearifan tradisional adalah sifatnya yang dinamis, berkelanjutan dan dapat diterima oleh komunitasnya.

Dalam komunitas masyarakat lokal, kearifan tradisional mewujud dalam bentuk seperangkat aturan, pengetahuan dan juga ketrampilan serta tata nilai dan etika yang mengatur tatanan sosial komunitas yang terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.

Read More